Rabu, 29 Mei 2019

Dua Malaikat Berdialog tentang Manusia

Dalam kitab Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû li ‘Allâm al-Ghuyûb, Sayyid Abdul Aziz al-Darani (w. 697 H) mencatat sebuah riwayat yang mengisahkan dialog dua malaikat. Diceritakan oleh Sayyid Abdul Aziz al-Darani:

أنّ ملكين من السماء كل يوم يقول احدهما: يا ليت الخلق لم يخلقوا, ويقول الآخر: ليتهم إذا خلقوا علموا لماذا خلقوا, ويقول الأول: ليتهم إذا علموا لماذا خلقوا عملوا بما علموا, ويقول الآخر: ليتهم إذا لم يعلموا تابوا مما عملوا, ويقال: العمر بضاعة والرابح من صرفه في الطاعة

Sesungguhnya dua malaikat dari langit setiap hari (turun). Salah satu dari dua malaikat tersebut berkata: “Alangkah baiknya kiranya manusia tidak diciptakan!” 

Berkata malaikat yang lain: “Alangkah baiknya, andai mereka tahu kenapa mereka diciptakan!” 

Berkata malaikat yang pertama: “Sekiranya mereka tahu kenapa mereka diciptakan, tentu mereka akan beramal saleh dengan pengetahuannya.” 

Berkata lagi malaikat lainnya: “Kiranya mereka belum beramal saleh, mereka (harus) bertobat dari apa yang telah mereka lakukan.”

Dikabarkan bahwa “umur adalah barang dagangan. Orang yang memperoleh laba adalah orang yang membelanjakannya dalam ketaatan.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003, h. 146)

****

Dengan mengutip riwayat di atas, Sayyid Abdul Aziz al-Darani hendak menyadarkan manusia dari tidur panjangnya. Mengingatkan manusia bahwa sekali waktu di zaman yang sangat dahulu malaikat pernah mempertanyakan kebijakan Tuhan yang hendak menciptakan manusia. Pertanyaan para malaikat itu bukan pertanyaan biasa, tapi pertanyaan yang langsung disertai tuduhan terhadap manusia (QS. Al-Baqarah: 30), “ataj’alu fîhâ man yufsidu fîhâ wa yasfiku al-dimâ’a—apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.” Riwayat di atas mengingatkan kita akan hal itu, bahwa manusia dengan segudang kualitas baiknya memiliki potensi berbuat jahat dan dosa.

Dalam kajian kali ini, kita tidak akan membicarakan kejahatan dan dosa yang “wah”, kita akan fokuskan kajian kita pada aspek acuhnya manusia terhadap dirinya sendiri. Syekh Hamza Yusuf sering melabeli manusia dengan istilah “orang yang tidur berjalan” untuk menunjukkan ketidak-mampuan manusia dalam mengenali kualitas dirinya. Dia (manusia) hidup, bernapas, tidak sedang tidur, bergerak, tapi kesadarannya sebagai manusia dan makhluk yang diproyeksikan Tuhan sebagai khalifah di muka bumi tidak berfungsi dengan baik. Jangankan menjadi khalifah di muka bumi yang berarti harus menjadi “khair al-nâs anfa’uhum li al-nâs—sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna untuk lainnya”, menjadi khalifah untuk dirinya sendiri saja masih jauh dari kata sampai.

Karena itu, dalam diskusi dua malaikat di atas, kita bisa temukan kerangka sederhana tentang taraf kesadaran manusia. Kerangka sederhana itu bisa kita anggap sebagai, atau paling tidak cara pandang malaikat dalam memahami manusia. Malaikat pertama membayangkan andai saja manusia tidak diciptakan, pasti tidak ada kejahatan di muka bumi ini. Malaikat yang lain memandang, andai saja manusia menyadari kenapa mereka diciptakan. Kemudian diteruskan oleh malaikat pertama, “tentu mereka akan banyak beramal saleh.” Namun, menurut malaikat kedua, mengetahui alasan kenapa mereka diciptakan (untuk mengabdi kepada Allah), masih belum cukup. Karena banyak orang yang mengetahuinya, tapi tetap bermaksiat. Sebab itu, malaikat kedua berharap manusia agar lekas bertobat dari apa yang telah mereka lakukan. 

Ini berarti tobat merupakan tangga pertama yang harus dinaiki manusia untuk menuju Tuhannya. Hampir semua manusia tahu bahwa berbohong adalah dosa, tapi banyak manusia yang tetap melakukannya. Pengetahuannya tidak menjadi detektor efektif dalam dirinya, sekedar deteksi sepintas lalu yang tidak berpengaruh apa-apa.

Ditambah lagi di akhir riwayat, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengutip sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa umur manusia adalah barang dagangan, orang yang meraup untung besar adalah orang yang membelanjakannya dalam ketaatan. Artinya, kita sedang berpacu dengan waktu. Kematian bisa datang kapan saja. Tanggal kadaluarsa manusia tidak bisa dipastikan seperti produk-produk masa kini. Setiap waktu adalah peluang. Berdagang dengan Allah tidak terbatas oleh waktu dan tempat tertentu, kapanpun dan dimanapun.

Dengan mengutip riwayat tersebut, Sayyid Abdul Aziz al-Darani ingin mencambuk hati kita agar lebih waras dalam menjalani kehidupan. Sadar bahwa kita sedang hidup, tidak sekedar berjalan kesana-kemari tanpa membawa dan memberi kemanfaatan untuk diri sendiri dan orang di sekitar kita. Apalagi nikmat Tuhan telah begitu banyak mengelilingi kita, terutama nikmat mengenali-Nya; nikmat menjadi hamba-Nya; dan nikmat menjadi umat Rasul terkasih-Nya, Sayyidina wa Maulana Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ia bersyukur dengan mengujar:

إلهي إنّ قلوبنا موقنة بصدق ما وعدت ونفوسنا طامعة بحسن ما عوّدت, ألهمتنا معرفة وجودك وعاماتنا بكرمك وجودك وزيّنتنا بصدق توحيدك وأنطقتنا بتمجيدك وتقديسك وتحميدك وأكرمتنا بصدق محمد خير خلقك صلي الله عليه وعلي آله وصحبه وسلم

“Tuhanku, sungguh hati kami yakin dengan kebenaran yang Kau janjikan, dan jiwa kami rakus dengan kebaikan yang Kau biasakan. Kau anugerahi kami ilham pengetahuan wujudMu, memperlakukan kami dengan kemuliaan-Mu dan kedermawanan-Mu, menghiasi kami dengan kebenaran tauhid-Mu, memberi kami kemampuan berucap untuk mengangungkan-Mu, menyucikan-Mu, dan memuji-Mu, serta memuliakan kami dengan meyakini kenabian Muhammad SAW, sebaik-baik dari makhluk-Mu.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 147)

Wallahu a’lam bish shawwab...
IAIN Salatiga.

Dialog Dua Malaikat tentang Manusia
repost from NU Online.

Sabtu, 12 November 2016

Kenapa Harus Sekolah, ada apa ?

Kenapa Harus Sekolah

  "Le, kamu sekolah yang tinggi ya, biar nanti bisa jadi pejabat tinggi, DPR atau Bupati, yah minimal tidak menjadi petani seperti bapak ibumu. Biar punya gaji banyak.  Lumayan bisa untuk ganti biaya sekolahmu yang mahal dan bisa punya kehidupan yang baik”, begitu kata salah satu orangtua kepada anak mereka.
Pada umumnya Tujuan sekolah  itu Cuma cari ijazah buat kerja yang bagus(gajinya besar)
            Diawal pendaftaran sekolah setingkat SMP atau SMA bahkan kuliah, jika ditanya mengenai tujuan mereka sekolah jawabannya sangat beragam. Ada yang mencari ilmu, ada yang ingin mewujudkan cita-cita, ada yang ingin cari istri atau pacar, ada yang hanya mencari ijazah dan ada juga yang mencari status. Berbeda tujuan itu wajar-wajar saja, karena beda orang beda pemikiran. Kalau kata tetanggaku, sudah mau sekolah saja sudah lumayan, daripada dirumah nganggur.
Tujuan sekolah :
1.      Mencari Ilmu
 Modus, caper (cari perhatian) memangnya kampus gudangya ilmu ?   asal kamu tahu sebenarnya guru dan dosen itu bukan mengajar, tidak ada pendidikan di sekolah. Menrut saya sekolahan dan pasar itu sama. Kalau pasar menjual barang berwujud tapi kalau sekolah itu menjual "omong kosong"(guru/dosen cuma pandai bicara saja).  Maaf ya kalau kata kata saya kurang sopan.  Maksud dari itu semua hanyalah saya cuma mengingatkan bahwa ilmu Allah SWT itu sangat luas maka kalau  mencari ilmu hanya disekolah/kampus saja maka kita akan kecewa.  sangat kecewa. toh kita harus belajar sendiri, mencari materi sendiri. bukan maksud untuk tidak setuju dengan keberadaan sekolah/kampus. cuma prihatin saja dengan kondisi pendidikan sekarang ini. lihat saja politik masuk, ikut campur urusan sekolah. praktik jual beli di sekolah, KKN, sekolah/ kampus sesungguhnya telah kehilangan ruhnya. sekolah/kampus banyak yang berubah menjadi monster yang menakutkan.  ilmu yang suci telah berubah menjadi ilmu sihir, ilmu untuk menhancurkan, ilmu bersaing yang tidak sehat. memang sih semua itu tergantung individu masing-masing. bersabarlah wahai para pecinta ilmu, para alim ulama yang kalah pamor dengan pemilik modal terbesar, yang dapat berkehendak semau mereka. 
2.      Mewujudkan Cita-Cita
dikira sekolah itu tempatnya tukang sulap, liat tuh ! banyak lulusan fakultas teknik malah mengurus kambing dan ayam, sementara lulusan hukum jadi tukang sayur keliling. Saran saya kalau ingin jadi pegawai suatu instansi minimal harus jadi anaknya(menantu) pimpinan instansi tersebut.
3.      Cari Pasangan
tujuan yang mulia sekali, memang tidak bisa di pungkiri bahwa salah satu tujuan sekolah didirikan itu untuk menjadi ajang menjari pasangan.
Dimanapun dan sampai kapanpun.
4.      Mencari Ijazah
sepandai apapun,  kalau tidak punya ijazah, menurut peraturan tidak tertulis didunia, itu tidak diakui(kurang afdhol).  Mencari ijazah adalah tujuan pertama dan yang paling utama.
5.      Mencari Status
Sarjana, magister, doktor.  Seolah olah orang yang punya banyak gelar itu hebat, punya segudang ilmu. Apa iya ?  Wahai rakyat jelata Jangan mau ditipu dengan gelar seseorang. Jangan buru-buru mengultuskan seseorang walaupun orang itu punya banyak pangkat dan jabatan.

 Demikianlah.
            Maka jika hal itu diteruskan selalu,  maka pikiran manusia akan terjajah. Akan menjadi masyarakat hedonis, masyarakat yang rakus, ingin menang sendiri, semua diperhitungkan dengan untung rugi(ekonomi/uang), ini bahaya dan tidak sesuai dengan moralitas bangsa indonesia yang penuh dengan sikap gotong royong, peduli dengan sesama, dan semangat persatuan.
            Revolusi mental harus berangkat dari tujuan dan hakikat pendidikan, kurikulum harus didesentralisasikan, agar setiap lembaga pendidikan mempunyai ciri khas masing-masing.
            Dan perlu diingat bahwa tujuan bangsa indonesia tidaklah sama dengan bangsa lain didunia sehingga kita tidak perlu risau dengan anggapan bahwa indonesia adalah termasuk negara yang tidak maju/ negara berkembang. Indonesia adalah negara yang punya ciri khas, penuh dengan gotong royong, saling peduli dengan sesama/tidak individualis.

            Benahi tujuan pendidikan masyarakat Indonesia !!!

Minggu, 25 September 2016

kurikulum menurut para ahli

Istilah “Kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar ahli dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dewasa ini. Tafsiran-tafsiran tentang pengertian maupun definisi kurikulum tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan titik berat inti dan menurut pandangan dari pakar yang bersangkutan.
Awalnya istilah kurikulum digunakan  dalam dunia olah raga pada jaman Yunani Kuno. Curriculum dalam bahasa Yunani berasal dari kata “Curriculae”, “ Curir “ artinya  pelari dan “ Curere “ artinya ditempuh atau berpacu. Curriculum diartikan jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Mengambil makna yang terkandung dari rumusan tersebut, kurikulum  dalam pendidikan diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah. Kurikulum  sebagai program pendidikan harus mencakup : (1). Sejumlah mata pelajaran atau organisasi pengetahuan; (2) pengalaman belajar atau kegiatan belajar; (3) program belajar ( plan for learning ) untuk  siswa ; (4) hasil belajar yang diharapkan.
Dari rumusan tersebut, kurikulum diartikan “ program dan pengalaman belajar serta hasil-hasil belajar yang diharapkan, yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis, diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan  dan perkembangan  pribadi dan kompetensi sosial  siswa. sederhananya, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dengan menempuh suatu kurikulum, siswa dapat memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti, bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ketempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.
Ada empat dimensi tentang konsep dan teori kurikulum, yang menjadi acuan dalam pengertian kurikulum, yaitu:
1.        Kurikulum sebagai ide, adalah cita-cita, keinginan, harapan atau tujuan yang difikirkan mengenai apa yang terbaik untuk dicapai dalam suatu kegiatan pendidikan (Hasan, 1991), kebijakan (Schubert, 1986), Teori (Bickman, 1987), Menurut hasan (1991), pada dasarnya kurikulum sebagai ide ada pada setiap orang. Seorang siswa memiliki satu ide kurikulum apabila ia berbicara tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan suatu kegiatan pendidikan dan bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan. Tentu saja apa yang difikirkannya itu sesuai dengan tingkat pengetahuan dari wawasan yang dimilikinya. Untuk tingkat siswa, keinginan atau harapan itu lebih berdasarkan kepentingan lingkungan yang sangat individual.
Guru harus memiliki kurikulum sebagai ide. Kurikulum ini yang kemudian digunakannya untuk emmbaca dan menafsirkan apa yang tertera dalam dokumen kurikulum. Sebagai guru sangat sukar, bahkan barangkali tidak mungkin, untuk merealisasikan idenya tersebut untuk menjadi suatu kurikulum nasional ataupun local. Kalaupun apa yang tertera dalam kurikulum nasional bersesuaian dengan apa yang difikirkannya, hal tersebut adalah lebih banyak sebagai suatu kebetulan. Meskipun demikian, guru bukanlah instansi terakhir yang paling berwenang menentukan apa yang akan terjadi di kelas, oleh karena itu dalam merencanakan kegiatan kelas ide guru adalah yang berlaku.
2.         Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis tentnag pembelajaran (dokumen pendidikan)kurikulum sebagai suatu rencana tertulis memiliku format tertentu. Di Indonesia kita mengenal format matriks yang digunakan kurikulum 1975, kurikulum 1986, kurikulum 1994, dan seterusnya.
3.         Kurikulum sebagai proses kegiatan belajar mengajar (PBM).Pengertian kurikulum sebagai suatu kegiatan (proses) adalah dimensi kurikulum yang langsung berhadapan dengan realita lapangan. Disinilah dimensi ide diuji. Apakah ide nasional kurikulum dikenal dan diakui para pelaksana di lapangan ataukah tidak. Kalau dikenal apakah ide tersebut diterima dan dikembangkan oleh para pelakasana. Persoalan ini adalah persoalan kurikulum yang paling kritis dalam keseluruhan proses pengembangan kurikulum. Oleh karena itu (Waring 1979) mengingatkan bahwa apabila apa yang terjadi di lapangan berbeda secara prinsipal dengan ide semula maka kurikulum yang diimplementasiaknnya bukan kurikulum semula.
4.        Kurikulum sebagai hasil belajar (output, outcome, benefit, impact). Dimensi kurikulum sebagai kegiatan (implementasi) terdiri atas dua aspek utama.  Pertama adalah aspek perencanaan guru. Disini guru mengembangkan kurikulum sebagai rencana dan kegiatan tertulis yang dalam konteks pendidikan Indonesia dikenal dengan nama satuan pelajaran (Satpel) atau sekarang disebut RPP. Pada dasarnya, satpel ini adalah penafsiran tertulis guru mengenai mengenai apa yang ada pada dokumen tertulis kurikulum nasional. Dengan demikian saypel dapat diartikan sebagai kurikulum tertulis guru. Dimensi kurikulum sebagai suatu kegiatan inilah yang menentukan apa yang diperoleh siswa. Jadi, hasil belajar siswa ditentukan oleh kurikulum yang dialaminya dan bukan oleh kurikulum dalam bentu sebagai suatu rencana tertulis. Artinya, apa yang sesungguhnya dialami siswa tidak dapat dikenakan pada kurikulum sebagaimana yang ditetapkan oleh menteri Pendidikan Nasional.

                


Di Indonesia sendiri istilah “kurikulum” boleh dikatakan baru menjadi populer sejak tahun lima puluhan, yang dipopulerkan oleh mereka yang memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. Kini istilah itu telah dikenal orang di luar pendidikan. Sebelumnya yang lazim digunakan adalah “rencana pelajaran” pada hakikatnya kurikulum sama sama artinya dengan rencana pelajaran.
Beberapa tafsiran lainnya dikemukakan sebagai berikut ini.
Kurikulum sebagai rencana pembelajaranKurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa.Dengan program itu para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yang memberikan kesempatan belajar. Itu sebabnya, suatu kurikulum harus disusun sedemikian rupa agar maksud tersebut dapat tercapai. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, melainkan meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan, perpustakaan, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain; yang pada gilirannya menyediakan kemungkinan belajar secara efektif. Semua kesempatan dan kegiatan yang akan dan perlu dilakukan oleh siswa direncanakan dalam suatu kurikulum.
Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis dan logis. Mata ajaran tersebut mengisis materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa, sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya.
Kurikulum sebagai pengelaman belajar. Perumusan/pengertian kurikulum lainnya yang agak berbeda dengan pengertian-pengertian sebelumnya lebih menekankan bahwa kurikulum merupakan serangkaian pengalaman belajar. Salah satu pendukung dari pengalaman ini menyatakan sebagai berikut:
“Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or not (Romine, 1945,h. 14).Pengertian itu menunjukan, bahwa kegiatan-kegiatan kurikulum tidak terbatas dalam ruang kelas saja, melainkan mencakup juga kegiatan-kegiatan diluar kelas. Tidak ada pemisahan yang tegas antara intra dan ekstra kurikulum. Semua kegiatan yang memberikan pengalaman belajar/pendidikan bagi siswa pada hakikatnya adalah kurikulum. 

Definisi dan Pengertian Kurikulum Menurut ahli 
Mengenai kurikulum, berikut adalah definisi maupun pengertian kurikulum menurut pendapat-pendapat para ahli yang telah diungkapkan, diantaranya yaitu:
1.     UU No. 20 Tahun 2003. Kurikulum merupakan seperangkat rencana & sebuah pengaturan berkaitan dengan tujuan, isi, bahan ajar & cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan nasional.
2.     Dr. H. Nana Sudjana Tahun (2005)Kurikulum merupakan niat & harapan yang dituangkan kedalam bentuk rencana maupun program pendidikan yang dilaksanakan oleh para pendidik di sekolah. Kurikulum sebagai niat & rencana, sedangkan pelaksaannya adalah proses belajar mengajar. Yang terlibat didalam proses tersebut yaitu pendidik dan peserta didik. 
3.   Crow and Crow. Kurikulum ialah suatu rancangan dalam pengajaran yang tersusun secara sistematis untuk menyelesaikan program dalam memperoleh ijazah.
4.   Drs. Cece Wijaya, dkkMengartikan kurikulum dalam arti yang luas yakni meliputi keseluruhan program dan kehidupan didalam sekolah.
5.    Prof.Dr. Henry Guntur TariganKurikulum ialah suatu formulasi pedagogis yang termasuk paling utama dan terpenting dalam konteks proses belajar mengajar.
6.      Harsono (2005)Mengungkapkan bahwa kurikulum ialah suatu gagasan pendidikan yang diekpresikan melalui praktik. Pengertian kurikulum saat ini semakin berkembang, sehingga yang dimaksud dengan kurikulum itu tidak hanya sebagai gagasan pendidikan, namun seluruh program pembelajaran yang terencana dari institusi pendidikan nasional.
7.  Hamid Hasan (1988). Berpendapat bahwa konsep kurikulum bisa ditinjau dari 4 sudut yakni : (1) kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian ; (2) sebagai suatu rencana tertulis, yaitu sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide, didalamnya berisi tentang tujuan, bahan ajar, aktifitas belajar, alat-alat atau media, dan waktu pembelajaran ; (3) sebagai suatu kegiatan, merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yakni dalam bentuk praktek pembelajaran ; (4) sebagai suatu hasil, yaitu konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, melalui ketercapaiannya tujuan kurikulum terhadap peserta didik.
8.      Kerr, J.F (1968). Kurikulum merupakan seluruh pembelajaran yang dirancang dan dilakukakan secara individu maupun kelompok, baik didalam sekolah maupun diluar sekolah.
9.    George A. Beaucham (1976). Kurikulum diartikan sebagai dokumen tertulis yang berisikan seluruh mata pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik melalui pilihan berbagai disiplin ilmu dan rumusan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 
10.  Good V.Carter (1973). Mengatakan bahwa kurikulum merupakan sekumpulan kursus ataupun urutan pembelajaran yang sistematik.
11.  Inlow (1966). Kurikulum merupakan suatu usaha menyeluruh yang dirancang secara khusus guna untuk membimbing peserta didik dalam memperoleh hasil belajar dari pembelajaran yang sudah ditetapkan.
12. B. Bara, Ch (2008). Mengkonsepkan kurikulum kedalam 4 pengertian yakni: (1) kurikulum sebagai suatu produk ; (2) sebagai program ; (3) sebagai hasil yang diinginkan atau dicapai ; & (4) sebagai pengalaman belajar.
13.David Praff. Kurikulum merupakan seperangkat organisasi dari pendidikan formal / pusat-pusat pelatihan pembelajaran.
14. Donald E. OrlaskyOthanel Smith (1978) & Peter F. Olivva (1982). Menyatakan bahwa kurikulum pada dasarnya ialah suatu bentuk perencanaan maupun program dari pengalaman peserta didik  yang diarahkan dan dikembangkan di sekolah.
15. Daniel Tanner & Laurel Tanner. Mereka mengemukakan pengertian kurikulum sebagai suatu pengalaman pembelajaran yang terarah, terencana secara sistematis juga tersusun melalui proses rekontruksi pengetahuan & pengalaman serta berada dibawah pengawasan lembaga pendidikan sehingga para peserta didik  memiliki motivasi & minat belajar yang tinggi.
16.  Neagley dan Evans (1967). Mengemukakan kurikulum sebagai sebuah pengalaman yang telah dirancang dari pihak sekolah untuk membantu peserta didik dalam mencapai hasil belajar yang baik. 
17.  Hilda Taba (1962). Kurikulum dianggap sebagai a plan of learningyang artinya bahwa kurikulum merupakan sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh peserta didik.
18.  Grayson (1978). Menjelaskan kurikulum sebagai suatu perencanaan dalam memperoleh pengeluaran yang diharapkan dari suatu pembelajaran yang telah diajarkan.
19.  Prof. Dr. S. Nasution, M. A. Menjelaskan kurikulum sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses kegiatan belajar mengajar di bawah naungan, bimbingan & tanggunga jawab sekolah / lembaga pendidikan. 
20.  S. H. Hasan (1992)Menurutnya kurikulum itu bersifatfleksibilitas. Yakni sebagai suatu pemikiran kependidikan bagi diklat, sehingga dalam posisi teoritik, harus dikembangkan dalam kurikulum sebagai sesuatu yang terencana dan juga dianggap sebagai kaidah pengembang kurikulum. 
21.  Prof. Drs. H. Darkir. Menyatakan bahwa kurikulum merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan. Jadi, kurikulum ialah program pendidikan dan bukan program pengajaran, sehingga program itu direncanakan dan dirancang sebagai bahan ajar dan juga pengalaman belajar. 
22.  William B. Ragam & Robert S. Flaming. Kurikulum merupakan keseluruhan pengalaman peserta didik yang menjadi tanggung jawab pihak sekolah atau lembaga.
23.  Murray PrintMenjelaskan bahwa kurikulum ialah ruang pembelajaran yang direncanakan, diberikan secara langsung kepada peserta didik oleh sebuah lembaga pendidikan dan merupakan pengalaman yang bisa dinikmati oleh seluruh peserta didik ketika kurikulum itu diterapkan.
24.  Saylor (1958). Kurikulum ialah keseluruhan usaha pihak sekolah untuk mempengaruhi PBM baik secara langsung didalam kelas, tempat bermain, ataupun di luar sekolah.
25.  Valiga, T & Magel, C. Kurikulum merupakan suatu urutan pengalaman yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah untuk mendisiplinkan cara berfikir & bertindak para peserta didik.

Kurikulum sebagai alat dalam pendidikan memiliki berbagai macam fungsi dalam pendidikan yang sangat berperan dalam kegunaanya.
Fungsi Kurikulum adalah sebagai berikut...
  • Fungsi Penyesuaian (the adjustive or adaptive function) :Kurikulum berfungsi sebagai penyesuain adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dilingkungannya karna lingkungan bersifat dinamis artinya dapat berubah-ubah. 
  • Fungsi Integrasi (the integrating function) : Kurikulum berfungsi sebagai penyesuain mengandung makna bahwa kurikulum merupakan alat pendidikan yang mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utut yang dapat dibutuhkan dan berintegrasi di masyarakat. 
  • Fungsi Diferensiasi (the diferentiating function) : Kurikulum berfungsi sebagai diferensiansi adalah sebagai alat yang memberikan pelayanan dari berbagai perbedaan disetiap siswa yang harus dihargai dan dilayani. 
  • Fungsi Persiapan (the propaeduetic function) : Kurikulum berfungsi sebagai persiapan yang mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan mampu mempersiapkan siswa kejenjang selanjutnya dan juga dapat mempersiapkan diri dapat hidup dalam masyarakat, jika tidak melanjukan pendidikan.
  • Fungsi Pemilihan (the selective function) : Kurikulum berfungsi sebagai pemilihan adalah memberikan kesempatan bagi siswa untuk menentukan pilihan program belajar yang sesuai dengan minat dan bakatnya. 
  • Fungsi Diagnostik (the diagnostic function) : Kurikulum sebagai diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum adalah alat pendidikan yang mampu mengarahkan dan memahami potensi siswa serta kelemahan dalam dirinya. Jika telah memahami potensi dan mengetahui kelemahannya, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi dan memperbaiki kelemahannya. 
Kurikulum dibuat dan dirancang sebagai alat untuk bisa mencapai tujuan pendidikan secara universal dalam setiap kegiatan pembelajaran di sekolah dan memiliki komponen utama & penunjang yang saling terkait diantara keduanya. Adapun komponen-komponen kurikulum antara lain yaitu:
  • Tujuan: Berisikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
  • Materi atau isi : Merupakan bahan ajar yang akan disampaikan oleh pendidik kepada peserta didik
  • Media (sarana & prasarana): Alat peraga dan juga sarana prasarana yang menunjang kegiatan belajar mengajar.
  • Strategi : Metode atau taktik yang akan diaplikasikan dalam proses belajar mengajar
  • Proses belajar Mengajar : Mengarah pada sebuah proses dalam pembelajaran yang meliputi segala bentuk apresiasi peserta didik
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, Perkembangan Mengenai Kurikulum, telah berganti-ganti. yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 1999, 2004, 2006 dan 2013. antara lain sebagai berikut
  • Tahun 1947- Leer Plan (Rencana Pelajaran) 
  • Tahun 1952 - Rencana Pelajaran Terurai 
  • Tahun 1964 - Renthjana Pendidikan 
  • Tahun 1968 - Kurikulum 1968
  • Tahun 1975 - Kurikulum 1975
  • Tahun 1984 - Kurikulum 1984
  • Tahun 1994 - Kurikulum 1994
  • Tahun 1999 - Sublemen Kurikulum 1999
  • Tahun 2004 - Kurikulum Berbasis Kompetensi 
  • Tahun 2006 - Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 
  • Tahun 2013  - Kurikulum 2013

Kurikulum merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Pengembangan krikulum yang tepat akan membawa proses pembelajaran yang tepat dan dapat tercapainya pendidikan yang terbaik bagi peserta didik. Selain itu, di dalam kurikulum terdapat strategi kurikulum, hal tersebut  berkaitan erat dengan proses pembelajaran, yaitu bagaimana caranya (strategi), metode, atau kegiatan agar proses pembelajaran berlangsung dengan efektif dan efesiaen sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan.


semoga Allah ridho dan segala dosa diampuni

Dua Malaikat Berdialog tentang Manusia

Dalam kitab  Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû li ‘Allâm al-Ghuyûb , Sayyid Abdul Aziz al-Darani (w. 697 H) mencatat sebuah riwayat yang men...