PENDIDIKAN
INDONESIA HARUS REFORMASI
Beratnya
beban kurikulum yang diberikan di sekolah sekarang ini justru dinilai
kontraproduktif dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Bahkan, tak jarang anak menjadi malas
belajar dan membenci mata pelajaran tertentu.
Ketidakproduktifan kurikulum yang diterapkan pada siswa sekolah ini
diungkapkan secara jelas oleh sebagian praktisi di dunia pendidikan, setidaknya
praktisi pendidikan yang juga menjadi mahasiswa UNDARIS ,Romli bahwa perubahan
kurikulum di Indonesia tidak diiringi perubahan kualitas output menjadi lebih
baik. Karena kualitas output ditentukan
oleh dua faktor yaitu input dan proses transformasi. Di sekolah swasta, karena inputnya kurang
cerdas maka kecil kemungkinan dapat menghasilkan output yang berkualitas. Beda
dengan sekolah negeri karena inputnya bagus maka jika outputnya tidak
berkulitas maka transformasinya dapat dikatakan kacau.
Para pemerhati maupun praktisi di
bidang pendidikan sebenarnya telah menyadari tentang jeleknya penataan
kurikulum nasional, karena memang mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena atas
nama peraturan dari pusat serta atas nama penyeragaman kurikulum bahkan bila
perlu sepatu, tas dan sebagainya pun harus seragam. Padahal peraturan- peraturan tersebut terkadang
hanya demi kepentingan proyek semata. Buku
pelajaran baru banyak diterbitkan dengan alasan adanya perubahan kurikulum
padahal buku-buku tersebut hanya berbeda sampul dan kata pengantarnya saja. Ruh
dari pendidikan itu sendiri sebenarnya mati terkubur di dalam kepentingan- kepentingan politik.
Persoalan sistem pendidikan yang diberlakukan
selama ini memang telah berdampak sangat luas terhadap proses pendidikan di
Indonesia. Akibat sistem pendidikan yang
bersifat sentralistis dan menekankan keseragaman atau uniformitas telah
menyebabkan banyak penderitaan terhadap proses panjang perjalanan pendidikan
Indonesia.
Gejala-gejala
penderitaan pendidikan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pendidikan
kita pada saat ini tidak dapat dibanggakan bahkan dirasakan sangat membelenggu,
karena keterkaitanya dengan aturan sentral dan uniformitas.
2. Sentralisasi
dan uniformitas pendidikan saat ini mengakibatkan semua komponen
penyelenggaraan pendidikan kehilangan kemerdekaan, semua komponen pendidikan menjadi
beku dan kehilangan kreatifitas dan objektivitas nyata.
3. Pendidikan
kita pada saat ini tidak mampu mengakomodasi pluralisme bangsa, karena
keterkaitanya dengan sentralisasi,
uniformitas dan indikator keberhasilan yang menyimpang dari koridor pendidikan
4. Pendidikan
kita pada saat ini dapat dikatakan sangat diskriminatif dan menjauh dari
keadilan
5. Orang
tua dan masyarakat dalam sistem pendidikan kita sekarang banyak bertindak
menyimpang dari koridor pendidikan
6. Pendidikan
kita akhirnya menghasilkan manusia yang memiliki ketergantungan sosial sangat besar
dan menjadi beban negara.
Sayangnya, kesadaran ini belum tumbuh di
seluruh lapisan masyarakat bangsa indonesia sehingga keterpurukan ini masih
berlangsung tidak kunjung berakhir. Untuk itulah, maka perlu dibahas secara
terus menerus tentang persoalan tersebut agar solusi hingga kelangkah-langkah
implementasi sistem desentralisasi tersebut tidak menjadi pisau bermata dua,
karena pendidikan di Indonesia memang harus direformasi secara total, karena ia
bertanggung jawab terhadap nasib kehidupan dan keberlangsungan bangsa dan
negara ini. Tetapi niat baik reformasi
diharapkan bukan sebagai titik balik yang justru menambah dalam luka bangsa
Indonesia.
Wah nyatut nama besarku... ditunggu royaltinya...
BalasHapus