Minggu, 25 September 2016

kuliah pengembangan kurikululum

PENDIDIKAN INDONESIA HARUS REFORMASI

Beratnya beban kurikulum yang diberikan di sekolah sekarang ini justru dinilai kontraproduktif dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.   Bahkan, tak jarang anak menjadi malas belajar dan membenci mata pelajaran tertentu.  Ketidakproduktifan kurikulum yang diterapkan pada siswa sekolah ini diungkapkan secara jelas oleh sebagian praktisi di dunia pendidikan, setidaknya praktisi pendidikan yang juga menjadi mahasiswa UNDARIS ,Romli bahwa perubahan kurikulum di Indonesia tidak diiringi perubahan kualitas output menjadi lebih baik.  Karena kualitas output ditentukan oleh dua faktor yaitu input dan proses transformasi.  Di sekolah swasta, karena inputnya kurang cerdas maka kecil kemungkinan dapat menghasilkan output yang berkualitas. Beda dengan sekolah negeri karena inputnya bagus maka jika outputnya tidak berkulitas maka transformasinya dapat dikatakan kacau.
            Para pemerhati maupun praktisi di bidang pendidikan sebenarnya telah menyadari tentang jeleknya penataan kurikulum nasional, karena memang mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena atas nama peraturan dari pusat serta atas nama penyeragaman kurikulum bahkan bila perlu sepatu, tas dan sebagainya pun harus seragam.  Padahal peraturan- peraturan tersebut terkadang hanya demi kepentingan proyek semata.  Buku pelajaran baru banyak diterbitkan dengan alasan adanya perubahan kurikulum padahal buku-buku tersebut hanya berbeda sampul dan kata pengantarnya saja. Ruh dari pendidikan itu sendiri sebenarnya mati terkubur  di dalam kepentingan- kepentingan politik.
            Persoalan sistem pendidikan yang diberlakukan selama ini memang telah berdampak sangat luas terhadap proses pendidikan di Indonesia.  Akibat sistem pendidikan yang bersifat sentralistis dan menekankan keseragaman atau uniformitas telah menyebabkan banyak penderitaan terhadap proses panjang perjalanan pendidikan Indonesia.
Gejala-gejala penderitaan pendidikan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Pendidikan kita pada saat ini tidak dapat dibanggakan bahkan dirasakan sangat membelenggu, karena keterkaitanya dengan aturan sentral dan uniformitas.
2.      Sentralisasi dan uniformitas pendidikan saat ini mengakibatkan semua komponen penyelenggaraan pendidikan kehilangan kemerdekaan, semua komponen pendidikan menjadi beku dan kehilangan kreatifitas dan objektivitas nyata.
3.      Pendidikan kita pada saat ini tidak mampu mengakomodasi pluralisme bangsa, karena keterkaitanya dengan  sentralisasi, uniformitas dan indikator keberhasilan yang menyimpang dari koridor pendidikan
4.      Pendidikan kita pada saat ini dapat dikatakan sangat diskriminatif dan menjauh dari keadilan
5.      Orang tua dan masyarakat dalam sistem pendidikan kita sekarang banyak bertindak menyimpang dari koridor pendidikan
6.      Pendidikan kita akhirnya menghasilkan manusia yang memiliki ketergantungan sosial sangat besar dan menjadi beban negara.
Sayangnya, kesadaran ini belum tumbuh di seluruh lapisan masyarakat bangsa indonesia sehingga keterpurukan ini masih berlangsung tidak kunjung berakhir. Untuk itulah, maka perlu dibahas secara terus menerus tentang persoalan tersebut agar solusi hingga kelangkah-langkah implementasi sistem desentralisasi tersebut tidak menjadi pisau bermata dua, karena pendidikan di Indonesia memang harus direformasi secara total, karena ia bertanggung jawab terhadap nasib kehidupan dan keberlangsungan bangsa dan negara ini.  Tetapi niat baik reformasi diharapkan bukan sebagai titik balik yang justru menambah dalam luka bangsa Indonesia. 

1 komentar:

Dua Malaikat Berdialog tentang Manusia

Dalam kitab  Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû li ‘Allâm al-Ghuyûb , Sayyid Abdul Aziz al-Darani (w. 697 H) mencatat sebuah riwayat yang men...